Peran keluarga adalah hal yang sangat penting bagi perkembangan karakter seorang anak dan tidak kalah penting lingkungan yang kondusif menjadi peran penting juga untuk perkembangan potensi anak.

Tim Jurnalis

Semakin maraknya kasus-kasus amoral saat ini menjadikan keprihatinan yang amat dalam dan membuat ketakutan bagi setiap orang tua, sebab masa depan seseorang ditentukan oleh perilaku saat ini. Bilamana perilaku sudah menunjukkan penyimpangan, tentu akan berdampak pada masa depan dan yang lebih ditakutkan adalah hilangnya rasa takut jika sewaktu masa pakai jasad telah habis tidak kembali kepada Tuhan dengan selamat.

Sehingga pendidikan sejak dini menjadi hal yang sangat mendasar dan menentukan kepribadian pada diri seorang anak hingga dewasa kelak, sebab karakater, sifat dan watak yang baik perlu dibina sejak dini. Tentu peran keluarga adalah hal yang sangat penting bagi perkembangan karakter seorang anak dan tidak kalah penting lingkungan yang kondusif menjadi peran penting juga untuk perkembangan potensi anak.

Faktanya, tidak sedikit kasus-kasus amoral dikalangan remaja maupun dewasa justru menunjukkan data yang signifikan dari tahun ke tahun. Akibatnya perilaku kesopanan, adab dan akhlak serta kepedulian menjadi hal yang langka bahkan aneh jika memiliki perilaku akhlakul karimah. Menyedihkan bukan?

Dilihat dari data demografi Indonesia, usia remaja di Indonesia mencapai 30%. Bukankah jumlah ini cukup besar, tapi sayangnya berdasarkan data Badan Narkotika Nasional, justru 50-60% remaja justru jadi pengguna narkoba. 48% dari jumlah tersebut merupakan pecandu, sementara sisanya hanya mencoba penggunaan narkoba.

Hal tersebut pada fakta lapangan yang terjadi diperparah dengan 90% video porno yang beredar dalam beberapa tahun terakhir diperankan oleh remaja. Bukankah hal ini memprihatinkan?

Dari data-data tersebut diperlukan pendidikan yang benar-benar mampu menyentuh nilai-nilai norma dan agama sejak dini, bukan sebatas mengenalkan, namun dalam praktik lapangan menjadi penilaian hal yang mendasar dan utama, bukan kognitif yang menjadi acuan utama sebab demi terbentuknya adab dan akhlak pada diri seorang anak. Jika tidak, entah apa yang terjadi bagi bangsa ini dimasa yang akan datang.

Mengenalkan sekaligus mengajak anak sejak dini untuk bertanam mempunyai dampak yang sangat luar biasa bagi perkembangan seorang anak. Hal ini akan merangsang otak untuk membentuk dendrit-dendrit yang dapat memicu terbentuknya pikiran positif hingga pada titik kebiasaan yang baik atau seperti membuat aliran-aliran sungai yang dapat saling mengkait-hubungkan antara aliran-aliran tersebut sehingga akan terbentuknya jiwa kepedulian yang melekat pada diri seseorang.

Petunjuk Bapak Kiai Tanjung dalam Kajian Annubuwwah menyampaikan "Hidup manusia ditentukan oleh sejauhmana mereka memahami tanaman"

Bagaimana demikian? Seseorang yang memberdayakan potensi pendengaran, menyimak, memperhatikan dan menghayati dengan sebaik mungkin ayat-ayat Tuhan, hal ini akan menjadikan ketajaman yang luar biasa dalam cara berpikir maupun bertafakur kepada Tuhan. Sebab dapat mengkait-hubungkan dan mampu menganalogikan semua apa yang dilihat, disimak, dicermati dan dihayati untuk direfleksikan pada diri sendiri dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Atas keprihatinan dengan data-data yang menunjukkan kemirisan, tentu membutuhkan perhatian yang penuh, supaya adab dan akhlak pada anak didik menjadi terbentuk untuk menciptakan perilaku keselamatan.

#NusantaraBangkit